Sabtu, 04 Oktober 2014

the ant :'

jadi sekarang, bisa kau lihat?
akibat semua gula yang telah kau masukkan dalam secangkir kopimu akhirnya menjadi pekat?
bahkan semut yang biasanya singgah di tengah tulisan mu pun enggan menolehnya

biasanya semut itu singgah tanpa kau sapa
mungkin karena kopimu dulu cukup untuk buatnya merasa kenyang dengan manisnya
tapi sekarang apa?
bahkan saat kau sengaja menyuruhnya mendiami genangan itupun ia menolak

saat kau merasa tentram melihatnya bermain di lingkaran kaca itu
menikmati tiap harum kopimu hingga kau tak berteman sepi di tiap malamnya
dan tak ada teman lainnya yang mengganggu
saat itulah kau satu ide dengannya

tapi semut berbeda, ia tak lupa dengan temannya
bahkan teman itulah yang paling dia anggap setia
padahal kau benci bila ada semut lain yang mengganggu harum manisnya

kau benci saat banyak semut lain berada disekelilingnya
membuat istana kuman dalam rendaman kopimu
hingga kau menumpahkan itu, mencucinya bersih , tak bersisa
seketika semua gangguanpun hilang lenyap bersama airnya

saat itulah kau sadar, kau telah melepaskan semutnya
dan takkan bisa kau dapat kan kembali semut yang sama

kini, tanpa kau sadari , telah sering kali kau membuatnya resah
sepi berjalan tanpa teman
tapi saat ia ingin berbagi dengan karibnya,kaupun enggan

jadi wajar,jika kini harum kopimu takkan memanggilnya kembali
hanya sekedar menanti dimana semut asli
mungkin memang kau tak berharap ia akan menemaniku menulis seperti dulu lagi
tapi berharap ia mengamati
kenyatannya, ia pun tak peduli

dari jauh,kopimu bisa tercium olehnya
tapi ia hanya melihat, takkan pernah mencoba lagi
mencoba hal yang hanya akan membuatnya gerah
ia gerah dengan segala celotehan malammu dalam kertas itu
sedangkan ia hanya sendiri
saat ia memanggil teman , kaupun lari

sekarang, nikmatilah kopimu sendiri
tumpahkan tinta dalam secarik kertas
gambarkan pinggiran gelas bersama semutnya
bila perlu dengan ratusan temannya
tumpahkan semua kenangan tentangmu dengannya di ratusan malamnya
katakan kau rindu akan semuanya
katakan kau takkan mengulangi dan takkan peduli akan semuanya



Sabtu, 06 September 2014

Tak salah jika ku menyebutMU maha pendengar. karena dalam beberapa jam saja kau telah menunjukkan kuasaMU,tuhan. terimakasih atas semua teguran yang kau berikan, aku yakin tiap inci dari peristiwa pasti terdapat maknanya.

dari kejadian beberapa hari ini, Dia telah membuat mata dan pikiranku terbuka. dengan hadirnya banyak membawa pengaruh di hidupku. setelah ini mungkin ada kerikil kecil yang akan kita lewati, tapi semoga saja kita tidak tergelincir dengan jebakannya lagi.

ku ungkapkan bangga bercampur sukacita saat bersama. jangan lagi ada air mata,cinta.
tetaplah disini,sampai nanti

your sincerely love, indah.

Kamis, 04 September 2014

unspoken

andaikan mulut ini mampu menahan atas semua cerita yang telah ku alami, mungkin kejadiannya tak akan seperti ini, tapi tetap saja hati ini mendesak untuk mengatakan. aku sudah pernah berfikir hal ini akan terjadi. bagaimanapun juga fakta yang kusimpan sendiri ini akan menjadi tekanan atau fikiranku kedepan, jadi ya sebaiknya aku katakan. memang cukup berat menerima kenyataan setelah cerita ini terungkapkan, tapi setidaknya aku telah berusaha untuk mengeluarkan beban yang selama ini ku simpan agar tidak ada rahasia lagi diantara kami,khusunya saya.

sudah 2 tahun lebih kami jalani bersama, untukku, rasanya tak tega mengucapkan atau mendengar kata itu. kata yang tak sanggup menahan bendungan air mata dan rapuhnya jiwa , bagai sia sia dg apa yg kami bina. setajam apapun kata , hati ini pasti iba. iba akan kenangan dan perjuangan yang sudah kami lewatkan.

hasil diskusi ku malam itu dengannya pun cukup membuahkan hasil . yg pd akhirnya aku tau , untuk semua dan sampai saat ini ,aku sangat mengekang hidupnya hanya utk menghabiskan waktu berdua denganku.ego ya? iya sangat, tp itulah caraku menunjukkan perhatian bahkan ksih syg. tp mungkin ini titik lelahnya dan aku tak bisa utk egois menahannya. karena hak ku atasnya tidak banyak,mungkin bagai setetes air, yg dimana air itu akan utuh bila ku tampung dan akan jatuh bila kugenggam. janjiku akan berbeda jika kesepakatan untuk berdua tuhan berikan besok,caraku melindunginya mungkin akan dirasakan berubah dan berbeda olehnya.

setidaknya, kami berdua masih cukup labil untuk mencari keputusan. keputusan yang datangnya spontan dan tak terfikirkan. keputusan yg akhirnya sangat menjadi penyesalan. maafkan bila lubuk hati mendesak untuk kembali, kalaupun ada jalan untuk kembali, izinkanku membenahi ini. menyingkirkan semua dosa besar yang telah kuperbuat, semua keterkekangan yang dia rasakan, dan semua ego dariku yang tak tersadarkan.

inginku hanya agar semuanya cepat selesai, bukan hubungan atau ceritanya, tapi masalahnya.

sungguh besar rasa ingin jumpa dengannya walau hanya lima menit menatap mata nya dan mengarahkannya pada sumbu violet mataku agar dia percaya bahwa semua hal yang ada di kepalanya tentangku itu salah, tp hal manis dan ego dariku itu harus aku tahan dan kubur dalam demi membuat tenang fikirannya. sekarang mungkin aku yg harus banyak mengalah dan bersabar layaknya kodrat sebagai wanita jaman belanda yang harus diam dan tunduk pada pemimpinnya. aku harus cukup kuat untuk beberapa hari,minggu bahkan bulan untuk menebus semua dosaku padanya.

tuhan,jika kau izinkan kami utk melanjutkannya, jangan biarkan ada lagi masalah besar menimpa kami. mohon tegur aku jika aku salah, bimbing aku jika aku tersesat, bangunkan aku jika aku terjatuh, tampar aku jika aku telah melampaui batas.

aku tidak meminta banyak hal, hanya impian kecil dalam khayal dan nyataku, cukup sosoknya disampingku.

aku merindukannya, tuhan :"

Rabu, 03 September 2014

selamat malam, maya
sudh sekian tahun blog ini tak terjamah , sudh banyak pula kisah bahagia, suka cita dan duka cita yg ku alami. semua rentetan cerita dn kejadian skrg yg telah dilalui bahkan tak lepas dr pemain lama. ya tapi ada beberapa pemeran baru dalam cerita ini.

setelah berusaha menjalani keseriusan, akhirnya pejuang ldr ini ga kuat juga buat ngadepin rintangan dn akhirnya pupus d tengah jalan. ah, tapi itu hanya cerita lama, toh lagian kami berdua sudah menjadi sahabat dekat sekarang.

bahagianya,sekarang sy sdg menjalani dg seseorg yg baru , ya cukup lama sudh pacaran, selama ga nyentuh blog ini cerita kita bahagia, sdikit sedih dan mungkin ini puncaknya. gini ya kalo kata org habis manis sepah dibuang , abis galau ke blog , nemu senengnya eh ga pernah ngeblog lagi , pas galau balik lagiiiii . hahahaa 😆

entah kenapa brp bulan ini kami berdua banyk bgt masalah yg sdkit rumit utk diselesaikan, karakter kami cukup keras ,bhkan utk mncapai kata sepakat pun susah. utk masalah yg 1 ini gabisa nyalahin dan bela diri sendiri. karena yaaa ini kesalahan fatal.

apapun alasannya, saya merasa nyaman dn percaya sepenuhnya sih, ya cuma namanya cowo mah gabisa lepas dr 1 cewe. dn akhirnya dia selingkuh. such down to upstairs when I hear and know that, but I'll alw try, forget and forgive him.

dia bilang ksalahanku ini bagai jackpot. (*ceritanya panjang) sampe akhirny kmren berantem gr" ad 1 hal yg ak pendem sendiri dn baru diceritain skrg. ak puny alasan knp bru crita skrg, tp dia ga puas nerima itu dn mgkin bs jd mau bales dndm atau nenangin diri dulu bbrp hari ini.

aku ga ngerti knp cowo tu gitu ya? maybe not all of them , but keseringan sih emg mirip perilakunya. kita jd cewe, yg khusunya pny sift setia dan sayang, mungkin ga akan ngelakuin hal bodoh layaknya selingkuh yg mereka perbuat. toh gaada gunanya kan? dn kita, khususny aku, jd cewee tu ya gituuu , kalo udh syg past keterlaluan sygnya . dn pas kecewa , yaudah, singkatny bales dendem. tp semua itu ga berarti apa" kok, it jg krn kesel udh disakitin brp kali dn rasanya ap yg udh d jaga slm bbpr tahun ini ancur aja gitu.

kadng aku mikir, kok mereka selingkuh berapa kali kita coba buat diem, sabar dn prcy lg sm mreka. tp knp pas kt gitu,mereka bilang kita udh melampaui batas, kyk gaada ampun nya ituloh dosa yg udh kita buat. mgkin emg salah ngelakuin ini, tpkan yauda sihh gabakal ada asep kan kalo gaada api, simple.

berharap sometimes bakal ad wahyu aj turun ke mereka yg suka egois dn mikir dirinya bener sendiri itu 😆




Senin, 14 Juli 2014

In every single day, I've never meet an answer about this problem.
I don't know why it must happened in me.
he come back , again and again, when I actually forget him.
we've try to solved this problem , but it getting bigger than before.
at least we already try, all decision just come back to allah.
and I hope the best ;')



Kamis, 22 Desember 2011

kisah inpiratif mario teguh - ibu :)

“Ibu merupakan kata tersejuk yang dilantunkan oleh bibir – bibir manusia. Dan “Ibuku” merupakan sebutan terindah. Kata yang semerbak cinta dan impian, manis dan syahdu yang memancar dari kedalaman jiwa.” Kahlil Gibran Namaku  Dewantara Alexandria. Orang-orang di sekitarku memanggilku dengan nama Tara. Aku sebenarnya lebih suka di panggil Alex ketimbang Tara. Alasannya karena Tara itu kesannya nama cewek. Aku 22 tahun dan saat ini aku menjadi seorang penulis lepas di beberapa majalah dan sekaligus aktivis sosial. Aku kos di salah satu sudut pinggiran kota Jakarta. Bukan kos mewah. Hanya sebuah kamar ukuran 2×3 meter tanpa perabot sama sekali. Kata orang ada harga ada mutu. Aku sudah terbiasa tidur dengan keadaan berkeringat saking panasnya. Atau di tatap sinis sama ibu kos gara-gara telat bayar uang bulanan. Menahan lapar bahkan tidak makan berhari-hari adalah hal yang biasa bagiku. Yang penting bisa minum. Minum air sumur atau kran di toilet umum jika dalam keadaan terpaksa. Itulah penyebab kenapa aku jadi kurus. Kata teman-temanku kurus kering seperti ikang kering yang dijemur. Apa lagi kalau lagi dikejar deadline sementara ide di kepala lagi macet total seperti pemdandangan sehari-hari di kota Jakarta. Tapi aku menikmati semuanya itu. Wajahku pas-pasan. Hanya kata orang aku memiliki sorot mata yang tajam dan kulit sawo matang yang aku warisi dari ibuku. Satu hal yang aku pelajari dari hidup ini adalah “hidup untuk memberi sebanyak-banyaknya bukan hanya untuk menerima sebanyak-banyaknya.” Itu alasan kenapa aku mau memutuskan untuk menjadi seorang aktivis sosial. Aku tidak terlahir dari keluarga yang mewah. Aku hanya dilahirkan dan dibesarkan dari keluarga yang sederhana dan penghasilan orang tuaku cukup hanya untuk makan sehari-hari. Aku memutuskan meninggalkan rumah ketika kedua orang tuaku tidak setuju dengan keinginanku untuk menjadi aktivis sosial. “Kita ini bukan orang kaya, nak! Tapi kalau itu keinginannmu, lakukanlah.” ucap ibuku. “Makan saja susah. Bagaimana mau menolong orang lain?” imbuh ayahku dengan tampang ketidak setujuannya. “Tapi ini jalan yang Tara pilih, pa.” “Tara, kamu itu pintar! Kamu bisa mendapatkan beasiswa untuk kuliah.” “Tara bisa menuntut ilmu dimana saja, pa. Tanpa harus kuliah. Percayalah, Tara ngga akan menyusahkan papa dan mama,” aku mencoba memberikan penjelasan. Ruang tamu malam itu mendadak hening. Di luar sana rembulan tampak malu-malu memancarkan pesonanya. “Kamu tinggal pilih. Kamu tetap mau menjadi aktivis sosial atau kerja sambil kuliah?” Aku kaget dengan ucapan ayahaku. Aku tahu aku bisa kuliah sambil kerja dan sekaligus menjadi seorang aktivis sosial tapi aku belum tertarik untuk kuliah. Kerja? Sarjana aja banyak yang menganggur apa lagi aku yang hanya lulusan SMA? Hatiku sudah bulat untuk menjadi aktivis sosial. “Jawab?” bentak ayahku dengan nyaring dan penuh ketegasan. “Tara tetap dengan keputusan Tara untuk menjadi aktivis sosial,” ucapku sambil melihat ibuku yang tertunduk menahan air matanya. “Kalau begitu, kamu bisa tinggalkan rumah ini. Malam ini juga!” Bagaikan petir di siang bolong menyambar hatiku mendengar ucapan ayahku. Aku tahu ayahku tidak akan mengubah keputusannya. Aku tahu jika beliau sudah mengatakan A maka yang terjadi harus A. Hanya Tuhan yang sanggup mengubah keputusan itu. Mungkin satu-satunya kesamaan yang aku punya dengan ayahku adalah kami sama-sama keras kepala. Sepertinya hanya itu yang aku warisi dari ayahku. Selebihnya dari ibuku apa lagi bentuk fisik seperti warna kulit dan rambut lurus. Aku beranjak meninggalkan ruang tamu dan masuk ke kamar untuk mengemasi bajuku. Ibuku menyusul masuk ke kamar. Dengan spontan aku memeluknya. “Kamu mau tinggal dimana?” “Ma, ngga usah kuatir, aku akan baik-baik saja. Aku hanya butuh doa mama. Hanya itu.” “Besok, mama akan bilang apa kalau adik-adikmu mencari kamu?” Aku melepaskan diri dari pelukan ibuku. Aku mengusap air matanya. Aku tidak ingin dia menangis meski aku sendiri berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis. “Katakan saja aku pergi untuk memenuhi panggilan hidupku.” “Kamu dan papamu sama-sama keras. Mama tidak bisa meluluhkan hati kalian berdua.” Aku kembali memeluk ibuku. Setelah puas aku mengemasi pakaianku seadanya. Aku membuka lemari pakaian yang sudah tua dimakan rayap. Disana hanya tergantun seragam SMAku yang penuh coretan dan 2 kaos oblong serta satu celana jeans. Di sisi lainnya hanya ada pakaian sehari-hariku yang bisa dihitung jari. Aku memasukan semuanya itu ke dalam ranselku yang warnanya sudah luntur. Ibu hanya duduk lesuh di ranjangku. Aku menghampirinya. “Mama jangan sedih ya! Tara janji akan membuat mama bahagia. Mama akan tersenyum dengan pilihan hidup Tara. Sayapku sudah tumbuh, aku ingin terbang. Merebut kemenangan di mana pun adanya. Aku akan pergi untuk kembali, ma.  Janganlah menangis. Biar kucari jalanku sendiri.” “Mama percaya dengan kamu Tara,” ucap ibu lalu menanggalkan satu-satunya perhiasan yang dia punya. Cincin yang selalu dikenakannya. Cincin yang aku sendiri tidak tahu sejak kapan dia memakainya. “Mama hanya punya ini. Ambillah. Kamu bisa menjualnya untuk kebutuhanmu. Mama tidak punya uang. Hari ini untuk makan saja, mama harus pinjam sekaleng beras dengan tetangga. Pesan mama, bukan seberapa besar yang bisa kita beri kepada orang lain tapi seberapa besar hati kita pada waktu memberi dan melakukan sesuatu.” Aku memeluk erat ibuku kembali. Pelukan yang sampai hari ini masih terasa. Pelukan seorang ibu yang penuh dengan kasih sayang. Pelukan seorang anak kepada ibunya. Ibu yang pernah berjuang mati-matian untuk melahirkan dan membesarkan anaknya. Ibu yang selalu dan selalu berusaha membelikan aku dan adik-adikku kue kecil di setiap momentum penting. Ibu tidak pernah kekurangan akalnya, bagaimana di setiap ulang tahun kami ada kue kecil sebagai pengganti kue ulang tahun.  Ibu berusaha menghemat sekuat tenaga uang dapur yang ada. Ah… Ibuku memang kreatif. Apa lagi kalau merangkai kata-kata indah. Kata-kata yang menjadi cambuk bagiku untuk terus maju meski dalam keadaan terpuruk sekali pun. Aku masih ingat ketika pulang sambil mennagis karena nilau ujianku merah. Ibu hanya berkata, “Tidak ada orang yang bodoh di dunia ini,yang ada hanya orang yang pintar dan belum pintar. Nilai bukan segalanya tapi  bagaimana kamu berusaha sebisa kamu. Setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda.Ada yang pintar dan ada yang belum pintar.Dan penddikan bertugas mengubah yang pintar menjadi lebih  pintarSerta yang belum pintar menjadi pintar.” “Malam ini Tara akan nginap di rumah Marcel. Besok Tara akan cari kos.” “Sudahlah. Kalau ada apa-apa jangan lupa kabarin mama. Burung pipit pun tahu kalau dia harus tetap bisa hidup sekalipun harus mematuki sisa padi di lumbung sang petani. Mau atau tidak mau ,hidup ini ada untuk dihidupkan. Oleh karena itu kamu hidup dengan bernafas, maka hidupkanlah nafasmu.” Hati kecilku terasa perih. Aku tidak punya handphone lagi. Aku menjualnya dua hari yang lalu untuk biaya sekolah adikku. Handphone yang aku dapatkan sewaktu menang menulis cerpen di salah satu majalah remaja terkenal. Bagaimana aku bisa mengabarinya kalau ada apa-apa? Dan bagaimana dia akan menghubungiku kalau ada apa-apa di rumah? Beliau diam. Menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan pelan namun penuh semangat dan kekuatan. “Buktikan pada dunia termasuk papamu.  Kamu adalah sang pemimpi sejati. Ayunkan kakimu untuk mencoba meraih khayalanmu yang tertinggi. Kamu adalah pejuang hidupmu  yang suka resiko. Kamu harus tahu, hidup ini penuh resiko  dan tantangan. Ibu ingin melihat kamu merubah mimpi dan hayalmu menjadi realita yang menjadi karya abadi. Bukan imajinasi juga gambaranmu semata. Ibu percaya kamu bisa, Tara. Jika hatimu terasa gundah maka berbaringlah dalam kesunyianmu. Jika hatimu tak lekas cerah maka pejamkan matamu dan tidurlah. Bawa dirimu terbang dan melayang dalam indah dunia mimpi. Pejamkan dan bawa dirimu ke alam mimpi. Ketika kau telah sampai di alam mimpi, melayang dan bergembiralah di sana.Bermainlah  dengan peri-peri kecilmu. Jika kamu telah lelah bermain. Jika hatimu telah riang, buka mata dan bangkitlah dari mimpimu karena ada orang-orang yang menantimu untuk merasakan belai kasihmu. Jangan pernah sia-siakan dunia ini kosong tanpa sentuhan hangat darimu, Tara.” Aku sangat suka sewaktu aku kecil ibu selalu memotivasiku dengan cerita dongengnya. Ketika aku beranjak dewasa, ibu selalu menguntai kalimat indah dari bibirnya sebagai pengganti dongeng sebelum tidur. Selesai mengemasi semua pakaian, aku beranjak ke ruang tamu di temani ibu. Aku ingin pamit dengan papaku. Tapi belum sempat aku menghampirinya, beliau langsung beranjak pergi meninggalkan rumah. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku berusaha untuk tegar. Aku memasuki sebuah kamar di mana adik-adikku tidur dengan berdesak-desakan. Ada Sastra, Agnes dan si kecil Moses. Aku menatap wajah mereka satu persatu. Wajah polos yang tak berdosa. “Aku selalu merindukan, mama,” ucapku lirih ketika mencium dahinya yang penuh kerutan untuk pamit. “Kalau kamu merasa lelah dan tak berdaya dan saat segala usaha sepertinya sia-sia. Tuhan tahu, kamu sudah berusaha. Ketika kamu lelah menangis sekian lama dan hatimu masih terasa pedih. Tuhan telah menghitung air matamu. Jika kamu tahu bahwa kamu sedang menunggu sesuatu namun waktu serasa berlalu begitu saja. Tuhan juga sedang menunggu bersama denganmu, bersama berjalannya waktu. Ketika kamu merasa sepi dan sendiri sementara orang-orang terlalu sibuk dengan diri masing-masing. Tuhan selalu berada di sampingmu, menemanimu. Ketika kamu pikir bahwa kamu telah mencoba segalanya dan tidak tahu hendak berbuat apa lagi, bersabarlah. Tuhan pasti punya jawabannya. Saat hatimu terasa tertekan, akal dan pikiranmu tak dapat menerima segalanya. Tuhan akan menenangkanmu. Saat kau dapat melihat secercah harapan yakinlah, saat ituTuhan sedang berbisik kepadamu. Saat kamu ingin bersyukur,sebelum kata syukur itu terucap, Tuhan telah menerima syukurmu. Ketika sesuatu yang indah terjadi dan kamu tersenyum dengan apa yang terjadi. Tuhan sedang tersenyum padamu. Ketika kamu memiliki tujuan dan mimpi untuk dipenuhi. Tuhan sudah membuka matamu dan dengan memanggil namamu. Ketika kamu terlupa dan berpaling, Tuhan tetap mengingatmu. Ketika kamu sadar dan ingin kembali, Tuhan akan selalu menerimamu. Seperti itulah juga ibu kepadamu, Tara.” Aku tidak pernah menyalahkan Tuhan kalau aku terlahir di keluarga yang pas-pasan. Aku justru bersyukur. Meski keluargaku tidak memiliki harta yang mewah tapi setiap hari kami masih bisa bersyukur dan tetap bersukacita. Untuk apa memiliki harta kalau itu ternyata didapatkan dari cara yang tidak benar? Dari ibuku aku belajar tentang arti memberi dan berkorban. “Yang membedakan antara memberi dengan berkorban adalah rasa sakit. Ketika kamu memberi dan itu terasa sakit maka itulah yang namanya pengorbanan. Orang yang memberi belum tentu berkorban tapi mereka yang berani berkorban adalah mereka yang memberi dengan cara yang terbaik.” Itulah jawabannya dulu, ketika ku menanyakan tentang perbedaan antara memberi dan berkorban. Dengan langkah yang pasti aku melangkah meninggalkan rumahku. Dari jalan setapak, aku memalingkan wajahku. Di rumah tua itu aku melihat lambaian dan senyuman ibuku. Lambaian tangan dan senyuman yang tak akan pernah aku lupakan sampai hari ini.  Aku memantapkan langkahku dengan sebuah itikad di hatiku, “Sudah saatnya aku berani berdiri tegak pada kehidupanku dan bukan saatnya lagi aku merengek pada susah kehidupanku. Sudah saatnya aku pilih jalan berjuang  bukan bertahan. Itulah artinya HIDUP.” Ibuku adalah penopang dikala aku rapuh, rujukan dikala semuanya suram. Hanya tangisku sebagai saksi atas rasa cintaku padanya. Dalam setiap malam ada doa yang kupanjatkan pada Sang Maha Kuasa untuk ibu. “Berilah ibu balasan yang sebaik-baiknya atas didikan dan kasih sayang yang ibu limpahkan untukku. Lindungi dan peliharalah ibu sebagaimana ibu melindungi dan memeliharaku. Ya Tuhan, setiap penderitaan yang telah ibu rasakan akan Engkau perhitungkan untuk memberkatinya. Dalam tangan-Mu yang agung. Aku menyerahkan ibuku ke pada-Mu yang telah menciptakanku dan Ibu dari debu tanah. Amin.”

Sabtu, 17 Desember 2011

Thank you mama

Alhamdulillah, tanggaal 17 ya ini??? Sesuatu yang baru mask dalem rumah Kira, sesuatu yang ga pernah Kita bayangin bakalan ada Ini sebenernya agak complicated, hari ini tu pas umur mama yang ke 46 Harusnya kan kita yang kasi kado ke mama , tapi Sekarang Malah kebalik, mama yang kasi hadiah ke kita Big thanks for my lovely angel that always give us happiness in our life I can't say anything if there's no you in my life mom Promise me to care us until the end of your life I love you so much momm Happy birthday 46th , hope Allah always blessed you :')